Pro Dan Kontra Esport Masuk Kurikulum Resmi Sekolah

Pro Dan Kontra Esport Masuk Kurikulum Resmi Sekolah

Sejak awal tahun 2019 yang lalu, Kemenpora telah memberikan usulan mengenai eSport yang dimasukkan ke dalam kurikulum resmi sekolah formal Indonesia. Tentunya hal itu menimbulkan pro dan kontra tersendiri di kalangan akademis Indonesia, terutama para guru. Karena dikhawatirkan akan memberikan efek negatif bagi anak-anak di mana mereka tidak mau lagi belajar materi keilmuan.

Di Amerika sendiri telah menjadikan electronic Sport sebagai salah satu kurikulum resmi mereka di sekolah. Sementara di Indonesia, ada beberapa sekolah yang telah menyematkan electronic Sport sebagai salah satu bahan ajar mereka. Meskipun begitu, hingga saat ini belum ada putusan resmi apakah rencana atau usulan tersebut akan disetujui masuk ke kurikulum sekolah.

Mari kita bahas lebih lanjut mengenai sisi positif dan negatif jika electronic Sport dijadikan sebagai salah satu kurikulum di sekolah. Apalagi mengingat kasus PUBG yang sempat diharamkan dan dianggap tidak boleh dimainkan. Oleh karena itu, simak ulasan berikut selengkapnya mengenai pro kontra tersebut.

Pengaruh Positif dan Negatif eSport Jadi Kurikulum

Bagi para orangtua, game online adalah sesuatu hal yang dapat memberikan efek negatif bagi anak-anak mereka karena bisa menyebabkan kecanduan dan lupa waktu. Padahal menurut menteri komunikasi dan informatika, electronic Sport seharusnya bisa menjadi materi yang tidak boleh dianggap remeh dalam kurikulum sekolah.

Baca juga: 3 Game Esport Paling Sering Ditandingkan Tahun Ini

Ada beberapa dampak positif dari permainan electronic Sport layaknya seperti olahraga lainnya, berikut diantaranya:

  1. Melatih ketangkasan dan taktik bermain
  2. Dapat membantu mengembangkan bakat siswa untuk menjadi pemain profesional
  3. Melatih kecepatan dan konsentrasi dalam bermain game serta membangun kerjasama tim
  4. Meningkatkan keterampilan untuk memecahkan masalah
  5. Meningkatkan kemampuan bersosialisasi melalui interaksi dan komunikasi dalam tim game

Namun selain hal positif tersebut, ada juga beberapa dampak negatif yang dikawatirkan jika electronic Sport menjadi salah satu kurikulum resmi di sekolah, diantaranya:

  • Memberikan kecanduan narkotika melalui mata
  • Bisa menurunkan kualitas penglihatan karena selalu menatap layar gadget atau PC selama berjam-jam

Kontroversi Kurikulum eSport di Indonesia

Kontroversi masuknya electronic Sport sebagai salah satu kurikulum di sekolah formal Indonesia tidak terlepas dari kasus fatwa haram pada game PUBG. Hal itu karena game Ini mengandung unsur kekerasan yang seharusnya tidak boleh dimainkan anak-anak. Padahal kita ketahui bahwa setiap permainan electronic sport termasuk Dota 2, CSGO dan game lainnya pasti mengandung elemen kekerasan, termasuk kematian dan ilustrasi darah.

Baca juga: Terkuak Fakta Esport Di Dunia Dari Masa Ke Masa

Usulan fatwa haram terhadap game tersebut memang tidak seharusnya disetujui mengingat game bukan faktor utama untuk memicu terorisme dan kekerasan. Semua kembali pada diri pemain sendiri untuk menanggapinya bahwa semua adegan dan elemen tersebut hanya ada dalam game serta tidak dibawa ke dalam dunia nyata. Apalagi game-game tersebut sudah memberikan syarat dimana pemain minimal harus berusia 16 tahun keatas.

Sejauh ini, dampak positif justru lebih banyak dirasakan dari kehadiran electronic Sport sebagai salah satu turnamen olahraga elektronik dunia. Sehingga seharusnya tidak masalah jika kemenpora mengusulkan electronic Sport untuk masuk kurikulum di sekolah. Namun tentunya semua kembali lagi pada persetujuan dari berbagai pihak, terutama pendidik seperti para guru.

Tapi jika ada pertanyaan apakah Indonesia siap menggunakan kurikulum esport atau tidak, maka jawabannya adalah siap jika ada dukungan dari pemerintah serta berbagai kalangan dalam lingkungan sekolah. Dibutuhkan cara pengajaran yang benar agar dapat menekan angka angka resiko serta meminimalkan dampak negatif dari game online. Jadi, semua kembali pada diri kita masing-masing sebagai pemain game.